Pusat penjualan bebatuan untuk perhiasan, Pasar Rawabening, Jakarta, menyediakan berbagai jenis batu mulai dari rubi, zamrud, giok, hingga fosil batu. Namun, ada satu jenis batu yang menjadi primadona yakni batu akik.
"Sebenarnya sih sama-sama saja, tapi orang-orang lebih banyak cari batu akik buat cincin," ujar Iin (42), Kamis (13/5/2010), di Pasar Rawabening, Jatinegara, Jakarta.
Hal senada juga diungkapkan Nurhayati (46) yang juga menjual batu akik dan cincin dengan batu akik sebagai aksesoris. Batu akik memiliki banyak corak dan warna. Hal inilah yang menjadi daya tarik bebatuan tersebut.
"Saya biasanya beli akik lihat dulu warna dan coraknya," ungkap Ojie (37) saat ditemui Kompas.com tengah memilih-milih batu di pusat perbelanjaan itu.
Corak-corak batu akik pun beragam. Semakin teratur 'akar' batu akik tersebut membentuk menyerupai bentuk sesuatu, maka akan semakin mahal harganya. Batu Akik biasa dijual per keping dengan harga kisaran Rp 15.000.
Selain untuk cincin yang biasa digunakan pria, batu Akik juga biasa dimanfaatkan sebagai liontin pada kalung perempuan. Namun, di balik keindahan coraknya, ada sisi magis yang konon bisa membantu mengeluarkan aura.
Batu Akik dipercaya beberapa orang bisa mengeluarkan aura seseorang untuk mempengaruhi orang lain. Boleh dipercaya boleh tidak. Batu Akik bisa dikatakan sangat lekat dengan budaya masyarakat Indonesia.
Baik pejabat hingga rakyat kecil tak luput menggunakan bebatuan tersebut. Selain karena keindahan, khasiat juga menjadi alasannya. Tak pelak, Batu Akik masih tetap menjadi primadona di antara bebatuan lainnya.
0 komentar:
Posting Komentar